Perbanyak kemampuan jangan perbanyak keinginan

BJ Habibie

Pernah membaca buku atau referensi tentang kehidupan Rasulullah sebelum menjadi nabi, sebelum masa kenabian datang beliau telah banyak melakukan perjalanan dagang sehingga kesuksesan beliau dalam berbisnis terdengar seantero jazirah arab. kesuksesan beliau dalam berbisnis bukan karena beliau banyak modal uang tapi beliau punya modal utama yang sangat berharga yaitu keindahan akhlak sehingga siapapun yang bertransaksi dengan beliau baik itu pembeli maupun partner bisnis merasa diuntungkan.

Fenomena di masyarakat kita saat ini adalah bisnis itu identik dengan mempunyai modal uang yang banyak sehingga ketika seseorang mau memulai usaha hal pertama yang dipikirkan adalah bingung mencari modal uang, solusi tercepat biasanya dengan pinjam bank. Padahal sudah banyak contoh bisnis yang tumbang ditengah jalan meski secara modal sudah mencukupi untuk memutar bisnis tersebut.

Kalau bisnis itu cukup dengan modal uang saja bisa sukses mungkin telah banyak lahir pengusaha baru, tapi kenyataannya tidak begitu. Jadi bisnis itu tak semudah dengan kata – kata yang sering kita dengar yaitu ATM (amati, tiru, modifikasi) karena masih banyak faktor yang harus dipersiapkan, kita bisa mengamati bisnis yang lagi ramai sampai meniru plus memodifikasinya dengan baik mulai dari bentuk outlet, rekrut karyawan, model bisnis, hingga SOP tapi mengapa masih tidak bisa berjalan sesuai rencana.

Biasanya seseorang hanya melihat luarnya saja usaha tersebut terlihat ramai sehingga berambisi untuk menirunya dengan model ATM dan langsung mempersiapkan modal uang dengan cepat dengan harapan usaha barunya tersebut seramai usaha yang ditirunya. Mungkin kita bisa meniru apa yang kita lihat tapi kita lupa untuk meniru hal yang sangat penting yaitu sisi emosional. Apa itu sisi emosional, jadi begini kita berbisnis itu berhubungan langsung dengan manusia baik itu karyawan, pelanggan, maupun partner bisnis dan mereka itu punya sisi emosional yang harus kita jaga.

Apakah kita sudah mempersiapkan penanganan saat ada komplain dari pelanggan, apakah kita sudah bisa mengatur etos kerja karyawan, apakah kita sudah mampu mengimbangi sikap partner bisnis kita baik itu investor maupun para suplier. Hal-hal tersebut tidak bisa dilihat untuk ditiru tapi hanya bisa dirasakan, maka dari itu untuk memulai suatu usaha baiknya kita mengasah dulu ketrampilan kita mengontrol emosi baik itu mental maupun mindset kita sebagai pengusaha.

Jangan terjebak dengan ambisi langsung untung besar dengan melakukan transaksi yang besar kalau kita masih belum siap, semua itu butuh proses untuk berkembang jangan dipaksakan kalau anda belum siap kecuali sudah siap dengan segala resiko, ya oke-oke saja. Mulailah dengan mengasah insting menjual kita dengan menjadi reseller produk yang sesuai bidang kita, ikuti prosesnya mulai dari menangani orderan sampai mengatasi komplain sehingga anda menemukan polanya dan resiko sudah bisa diukur.

Ketika suatu bisnis itu menemukan polanya / caranya / jalannya maka akan terasa mudah dan disaat tersebut anda bisa melakukan scale up atau pengembangan usaha, bisa dengan modal sendiri, bisa pinjam bank, bisa pakai investor, terserah anda mana yang cocok. Di tahap ini seandainya anda menggandeng investor maupun pinjam bank sudah bukan tahap meraba-raba tapi sudah ke tahap melipatgandakan profit sehingga tidak begitu resiko lain halnya ketika baru memulai usaha tiba-tiba pinjam bank atau menggandeng investor sementara bisnisnya belum menemukan polanya / jalannya itu sangat beresiko.

Bersabarlah ikuti prosesnya jangan terburu-buru dalam membangun usaha, ketika keuntungan mulai datang jangan bernafsu untuk memenuhi keinginan misal langung kredit mobil, kredit rumah, dll. Lebih baik anda berinvestasi ilmu dengan terus belajar mengupgrade kemampuan anda agar bisa beradaptasi dengan keadaan apapun.

Dalam berbisnis modal uang itu penting tapi bukan yang utama, yang jauh lebih penting yang harus dipersiapkan adalah PERTAMA akhlak yang baik, ini tentang kejujuran, rasa tanggung jawab, berkomitmen, mampu berempati, dan lain sebagainya. KEDUA meningkatkan kemampuan, bagaimana kemampuan menjual, leadership, manajemen keuangan, manajemen produksi, dan lain sebagainya. KETIGA perbanyak silaturahmi, ini akan membantu anda menemukan jalan pintas yang artinya anda tidak perlu melakukan kegagalan yang sudah dialami orang lain dengan kita berkunjung kepada orang-orang yang sudah lebih dulu menjalani bisnis yang serupa dengan kita.

Ketika anda sudah memiliki akhlak yang baik, kemampuan anda mumpuni, terus jaringan anda luas maka modal uang bukan suatu kendala lagi, banyak yang mengantri untuk berinvestasi kepada anda. Jadi kalau seseorang mau memulai usaha yang dipermasalahkan hanya modal uang saja bisa jadi orang tersebut kurang dalam tiga hal diatas.

Bisnis itu bukan masalah apa produknya atau bagaimana model bisnisnya tapi kesuksesan sebuah bisnis juga tergantung siapa yang menjalankannya, karena karakter seseorang sangat mempengaruhi keberhasilan suatu usaha. Karakter atau akhlak itu terbentuk dalam kehidupan sehari-hari faktor lingkungan sangat berpengaruh bukan ditentukan seberapa tinggi tingkat pendidikan. Maka jangan heran apabila ada seseorang yang putus sekolah bisa sukses dalam berbisnis bila dibandingkan dengan lulusan S3 karena dalam bisnis akhlak atau karakter itu penting sedangkan hal teknis itu bisa dipelajari dan ditingkatkan dengan perbanyak mengikuti pelatihan maupun seminar.

Bisnis itu sama halnya dengan seni, ,misal lagu yang sama dinyanyikan oleh orang yang berbeda bisa jadi lebih booming, mungkin anda pernah lihat toko yang menjual produk yang sama bisa jadi berbeda tingkat keramaiannya, banyak faktor yang mempengaruhi suatu keberhasilan suatu usaha. Siapa yang terus belajar dan berinovasi memberikan layanan terbaik dialah pemenangnya tidak peduli apa agama anda, suku anda, ras anda karena ALLAH SWT itu maha adil lagi maha bijaksana.

Karena sukses itu pilihan, ada harga yang harus dibayar.